Kamis, 16 Juni 2011

Tips Buat yang Pelupa

 
Berikut ini tips buat orang yang sering pelupa :
Menerapkan  gaya hidup
Kekurangan tidur, stres, jenuh, tidak ada aktivitas dan alkohol merupakan musuh bagi memori, oleh karena itu stimulus intelektual menjadi kunci meningkatkan daya ingat. Membaca, mengerjakan teka teki silang, merencanakan perjalanan menyenangkan, melakukan hobi atau belajar skil baru seperti komputer dan bahasa asing akaan sangat membantu menajamkan memori.
Interaksi sosial
Berhubungan sosial dengan teman dan keluarga juga dapat membantu terhindar dari penyakit lupa. Penelitian bahkan menujukan lebih banyak seseorang berinteraksi sosial, semakin kecil mereka mengalami kerusakan fungsi kognitif.
Makan makanan peningkat daya ingat
Ini mungkin tidak termasuk dalam latihan mental, tetapi wortel mentah dan buah-buahan segar merupakan makanan yang memiliki peran besar menstimulus fungsi otak seperti daya ingat. Gula alam yang terkandung dalam buah-buahan sebenarnya dapat membantu kita berpikir dan mengingat kembali informasi lebih cepat.
Olahraga
Olahraga aerobik seperti berenang, jalan kaki dan sepeda dapat memompa oksigen ke dalam otot dan meningkatkan aliran darah dalam otak sehingga hasilnya otak lebih mudah mengingat sesuatu
Buat petunjuk sistem memori
Karena semakin banyak informasi semakin besar peluang kita menjadi lupa. Untuk mengingatkan diri sendiri mengenai hal-hal penting, Siapkan agenda atau organizer dekat dengat anda dan segera tulis segala hal penting termasuk tanggal, sesuatu yang perlu dilakukan dan lain-lain sebelum anda lupa. Dengar baik-baik informasi penting dan buat catatan kecil untuk mengingatkan apa yang terkait. Kembali sisihkan waktu untuk menuliskannya jika anda perlu.
Letakkan di Tempat yang strategis
Jika anda harus mengembalikan sesuatu atau memberi seseorang sesuatu, simpan ditempat yang selalu anda lihat atau dekat sesuatu yang setiap hari anda bawa.

Minggu, 12 Juni 2011

20 Perilaku Durhaka ORANGTUA Terhadap Anak

20 perilaku durhaka ORANGTUA terhadap anak:

1.   Salah memilihkan calon ibu/ayah

 2.   Menafkahi anak dari hasil yang haram
Membina dan menumbuhkan jiwa keagamaan pada anak-anak atau manusia pada umumnya sangat berkaitan erat dengan makanan dan minuman yang masuk ke dalam rongga perutnya.

3.   Mengajak anak pada kemusrikan

4.   Merintangi anak beragama dengan benar
Salah satu sebab orang tua merintangi anaknya untuk beragama dengan benar adalah karena orangtua tidak tahu sama sekali apa sebenarnya agama Islam yang murni, sebab selama ini dia hanya beragama Islam berdasarkan keturunan dan adat istiadat yang ditemuinya ditengah masyarakat. Karena itu, ketika dia mengetahui anaknya melakukan hal-hal yang selalu berlawanan dengan apa yang diketahuinya selama ini, dia merasa ditantang oleh anaknya mengenai cara dia beragama dan pengetahuannya tentang agama yang tidak benar itu.

Ada pula orng tua yang menganggapIslam hanyalah urusan masjid dan surau, sedangkan aspek kehidupan lainnya tidak ada hubungannya dengan Islam. Menurut mereka kenikmatan dunia ini tidak dapat diraih dan direngkuh berdasarkan lapangan hidup Islam.

 5.   Menelantarkan nafkah anak

6.   Menelantarkan pendidikan agama anak

 7.   Menempatkan anak dilingkungan yang rusak

Yang dimaksud lingkungan yang rusak secara Islam ialah lingkungan yang membuat anak jauh dari agama Islam dan berperilaku bertntangan dengan Islam.

8.   Memaksakan anak menikah dengan orang yang tidak disukai

9.   Merintangi anak menikah

10.  Memperlakukan anak tidak adil

11.  Membiasakan hal-hal buruk kepada anak

12.  Menyerahkan asuhan anak kepada non muslim

13.  Membebani anak dengan tugas-tugas di luar kemampuannya

14.  Menghilangkan hak waris anak

15.  Melahirkan anak diluar nikah

16.  Membiasakan anak boros

17.  Menciptakan suasana maksiat di lingkungan rumah

18.  Memberikan nama yang buruk kepada anak

19.  Tidak mengakui sebagai anaknya

20.  Membunuh anak

Kamis, 09 Juni 2011

Perilaku Anak, Cerminan Orang Tua



Suatu ketika, ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya. Selain itu, tinggal pula menantu, dan anak mereka yang berusia 6 tahun. Tangan orangtua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu. Penglihatannya buram, dan cara berjalannya pun ringkih.

Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang orangtua yang pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh ke bawah.

Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu itu tumpah membasahi taplak. Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan dengan semua ini. "Kita harus lakukan sesuatu," ujar sang suami. "Aku sudah bosan membereskan semuanya untuk pak tua ini."

Lalu, kedua suami-istri ini pun membuatkan sebuah meja kecil di sudut ruangan. Di sana, sang kakek akan duduk untuk makan sendirian, saat semuanya menyantap makanan. Karena sering memecahkan piring, keduanya juga memberikan mangkuk kayu untuk si kakek.

Sering saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar isak sedih dari sudut ruangan. Ada airmata yang tampak mengalir dari gurat keriput si kakek. Meski tak ada gugatan darinya. Tiap kali nasi yang dia suap, selalu ditetesi air mata yang jatuh dari sisi pipinya. Namun, kata yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan agar ia tak menjatuhkan makanan lagi.

Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua dalam diam. Suatu malam, sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang memainkan mainan kayu. Dengan lembut ditanyalah anak itu. "Kamu sedang membuat apa?".

Anaknya menjawab, "Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu, untuk makan saatku besar nanti. Nanti, akan kuletakkan di sudut itu, dekat tempat kakek biasa makan." Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.

Jawaban itu membuat kedua orangtuanya begitu sedih dan terpukul. Mereka tak mampu berkata-kata lagi. Lalu, airmatapun mulai bergulir dari kedua pipi mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua orangtua ini mengerti, ada sesuatu yang harus diperbaiki.

Mereka makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda. Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama. Dan anak itu, tak lagi meraut untuk membuat meja kayu.

Anak-anak adalah persepsi dari kita. Mata mereka akan selalu mengamati, telinga mereka akan selalu menyimak, dan pikiran mereka akan selalu mencerna setiap hal yang kita lakukan.

Mereka adalah peniru. Jika mereka melihat kita memperlakukan orang lain dengan sopan, hal itu pula yang akan dilakukan oleh mereka saat dewasa kelak. Orangtua yang bijak, akan selalu menyadari, setiap "bangunan jiwa" yang disusun, adalah pondasi yang kekal buat masa depan anak-anak.

Mari, susunlah bangunan itu dengan bijak. Untuk anak-anak kita, untuk masa depan kita, untuk semuanya. Sebab, untuk merekalah kita akan selalu belajar, bahwa berbuat baik pada orang lain, adalah sama halnya dengan tabungan masa depan.

Jika anak hidup dalam kritik, ia belajar mengutuk.
Jika anak hidup dalam kekerasan, ia belajar berkelahi.
Jika anak hidup dalam pembodohan, ia belajar jadi pemalu.
Jika anak hidup dalam rasa dipermalukan, ia belajar terus merasa bersalah.
Jika anak hidup dalam toleransi, ia belajar menjadi sabar.
Jika anak hidup dalam dorongan, ia belajar menjadi percaya diri.
Jika anak hidup dalam penghargaan, ia belajar mengapresiasi.
Jika anak hidup dalam rasa adil, ia belajar keadilan.
Jika anak hidup dalam rasa aman, ia belajar yakin.
Jika anak hidup dalam persetujuan, ia belajar menghargai diri sendiri.
Jika anak hidup dalam rasa diterima dan persahabatan, ia belajar mencari cinta di seluruh dunia.


Betapa terlihat di sini peran orang tua sangat penting karena mereka diistilahkan oleh Khalil Gibran sebagai busur kokoh yang dapat melesatkan anak-anak dalam menapaki jalan masa depannya. Tentu hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan esok harus lebih baik dari hari ini dan tentu kita selalu berharap generasi yang akan datang harus lebih baik dari kita.